Kamis, 04 Agustus 2011

TIps.... Food

4 Ciri Ayam Kualitas Baik

Johan Sompotan - Okezone 
(Foto: gettyimages)
(Foto: gettyimages)
DAGING ayam menjadi bahan masakan yang dibutuhkan banyak orang. Jangan salahkan diri bila mendapatkan ayam tidak segar. Kuncinya, pahami trik memilih.

Agar Anda lebih paham memilih daging ayam kualitas baik, simak tip Otong Arif Solehudin selaku chef Signature Restaurant Hotel Indonesia Kempinsky kepada okezone, Rabu (4/8/2011).

Perhatikan bentuk

Perhatikan warna daging. Ayam yang masih bagus, dagingnya terlihat segar. Kulitnya tidak kebiru-biruan sebagai tanda ayam membusuk.

Aroma

Kalau dengan memerhatikan daging belum cukup, ciumlah baunya. Daging ayam yang masih baik, aromanya masih segar.

Di pasar tradisional, Anda bisa membeli ayam hidup, berbeda dengan supermarket. Perhatikan penampilan; daging yang baik warnanya kuning keputihan, bukan pucat, juga terdapat semacam garis di kulit ayam. Ayam segar tidak mengeluarkan bau dan lendir.

Tekstur

Raba daging ayam untuk mengetahui teksturnya. Kalau hanya melihat, Anda tidak akan bisa memilih daging berkualitas. Tekstur daging ayam yang baik adalah kenyal dan tidak lembek.

Penyimpanan

Setelah mendapatkan daging ayam yang baik, jangan lupakan penyimpanan. Simpan ayam di temperatur yang terjaga; di freezer minus 18 derajat Celsius, chiller sehari sebelum diproses harus dengan temperatur 4 derajat Celsius. Bila tidak mempunyai chiller, Anda harus segera mengolahnya sebab kualitas daging ayam yang baik akan berubah dua hari kemudian bila Anda menyimpannya di lemari pendingin.(ftr} 


Sumber : Okezone Food
 

Bola Mania.....Ini Dia Syarat Keuangan Klub ISL

Ini Dia Syarat Keuangan Klub ISL

Windi Wicaksono - Okezone
Foto: Ist
Foto: Ist
JAKARTA - Workshop PSSI dan AFC yang berlangsung di Hotel Sultan selain menetapkan kriteria klub profesional juga membuat peraturan soal gaji dan kontrak pemain yang mulai dibatasi nominalnya.

Anggota Komite Eksekutif PSSI yang juga koordinator Liga Indonesia Sihar Sitorus menjelaskan bahwa mengenai pengelolaan keuangan di bagi menjadi dua kategori, yakni level satu dan level dua.

Kemudian, klub-klub yang ingin berkompetisi di level satu harus memiliki deposit partisipasi senilai Rp5 miliar dan budgeting cap sebesar Rp15 miliar.

"PSSI mencoba memberi batasan Rp500 juta per musim dengan kontrak minimal 3 tahun. Syarat-syarat tadi harus dipenuhi sebuah klub yang akan turun di kompetisi level satu," papar Sihar kepada wartawan, di Hotel Sultan, Rabu (3/8/2011).

Sementara itu untuk kompetisi level dua, depositnya mencapai Rp2 miliar dan budgeting cap sebesar Rp8 miliar. Gaji pemain lokal per musim maksimal Rp350 juta dengan kontrak minimal tiga tahun.

Aturan ini dianggap PSSI bisa menyelesaikan masalah klub-klub Indonesia yang tak jarang sulit membayar gaji pemain, terutama pemain bintang atau marquee.

Terkait marquee pun, PSSI mengatur tiap klub level satu hanya boleh memiliki satu pemain sedangkan untuk level dua, marquee ditiadakan.

Aturan yang dibuat PSSI membuka kesempatan setiap klub di strata kompetisi mana pun untuk tampil di kompetisi teratas atau Indonesia Super League (ISL).
(wei
Sumber : Okezone
 

Dakwah Islam

Berpuasa Tetapi Tidak salat

Alif Magz - detikRamadan
Berpuasa Tetapi Tidak salat
Jakarta - Tanya:

Bagaimana hukumnya melaksanakan puasa tapi tidak mengerjakan salat ,dan berpuasa tapi tidak makan sahur, lalu bagaimana hukumnya makan sahur tapi sudah waktu imsak Mohon Penjelasan.

(Aly)

Jawab:

1.Sebelum menjawab pertanyaan Anda saya ingin menggarisbawahi bahwa memang dapat ditemukan seseorang berpuasa tetapi tidak shalat. Ini menurut pakar-pakar agama membuktikan bahwa jiwa manusia memeroleh kenikmatan ketika menjalani satu kewajiban dengan sukses, dan semakin berat kewajiban yang dilakukan dengan sukses itu, semakin tinggi kenikmatan ruhani yang diperoleh.

Karena itu, lebih banyak orang yang berpuasa daripada yang shalat, karena puasa lebih berat dari shalat. Itu pula sebabnya sehingga seringkali anak kecil meski telah dilarang oleh orang tuanya berpuasa, namun dia tetap bersikeras melakukannya.

Selanjutnya, kalau pertanyaan Anda dijawab menurut pandangan hukum, maka jelas bahwa kewajiban puasa berbeda dengan kewajiban salat. Atas dasar itu, maka siapa yang berpuasa tetapi tidak salat, maka selama puasanya memenuhi syarat—tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan seks, serta menghindari hal-hal yang membatalkannya—maka puasanya sah, walaupun dia tidak shalat. Ketiadaan shalatnya tercatat sebagai dosa yang tidak ringan yang harus dipikulnya.

Tetapi kalau kita berbicara dari segi substansi keagamaan, yakni pengagungan kepada Allah SWT, maka jelas, siapa yang tidak salat, maka dia tidak mengagungkan Allah. Karena dia menolak undangan Allah untuk hadir kepada-Nya.

Di sisi lain, salat adalah ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaaan apa pun. Atas dasar itu, saya khawatir puasa orang yang tidak shalat, walau dari segi pandangan hukum sah-sah saja, tetapi itu sama sekali tidak mengakibatkan murka Allah kepada yang bersangkutan Sahur hanya anjuran.

Tujuannya antara lain untuk mengurangi rasa lapar dan haus akibat puasa, dan secara tidak langsung untuk mengantar yang bersangkutan berdoa di waktu fajar yang merupakan salah satu waktu yang disiapkan Allah swt. untuk mengabulkan doa.

2.Makan dan minum sekenyangnya pun setelah imsak tidak membatalkan puasa selama itu dilakukan sebelum waktu subuh masuk, tetapi sebaiknya dihindari. Demikian, wallahu a'lam.

(M. Quraish Shihab – Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an)

(Qur'an and Answer ini merupakan kerja sama detikcom dengan www.alifmagz.com)

( gst / vit )


Sumber : Detik Ramadan

TRAFO DISTRIBUSI

PENGARUH KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN
TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRAFO DISTRIBUSI

Julius Sentosa Setiadji1, Tabrani Machmudsyah2, Yanuar Isnanto
1Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra
2PT. PLN(Persero) Distribusi Jawa Timur

Abstrak
Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan penyebab ketidakseimbangan tersebut adalah pada beban-beban satu fasa pada pelanggan jaringan tegangan rendah.
Akibat ketidakseimbangan beban tersebut muncullah arus di netral trafo. Arus yang mengalir di netral trafo ini menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah.
Setelah dianalisa, diperoleh bahwa bila terjadi ketidakseimbangan beban yang besar (28,67%), maka arus netral yang muncul juga besar (118,6A), dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah semakin besar pula (8.62%).

Kata kunci : Ketidakseimbangan Beban, Arus Netral, Losses


Abstract
The unbalanced load in electric power distribution system always happen and it is caused by single phase loads on low voltage system.
The effect of the unbalanced load is appear as a neutral current. These neutral current cause losses, those are losses caused by neutral current in neutral conductor on distribution transformers and losses caused by neutral current flows to ground.
In conclusion, when high unbalanced load happened (28,67%), then the neutral current that appear is also high (118,6 A), ultimately the losses that caused by the neutral current flows to ground will be high too (8,62%).

Key words : Unbalanced Load, Neutral Current, Losses

Pendahuluan

Dewasa ini Indonesia sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang. Seiring dengan laju pertumbuhan pembangunan maka dituntut adanya sarana dan prasarana yang mendukungnya seperti tersedianya tenaga listrik. Saat ini tenaga listrik merupakan kebutuhan yang utama, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk kebutuhan industri. Hal ini disebabkan karena tenaga listrik mudah untuk ditransportasikan dan dikonversikan ke dalam bentuk tenaga yang lain. Penyediaan tenaga listrik yang stabil dan kontinyu merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik.
Dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, terjadi pembagian beban-beban yang pada awalnya merata tetapi karena ketidakserempakan waktu penyalaan beban-beban tersebut maka menimbulkan ketidakseimbangan beban yang berdampak pada penyediaan tenaga listrik. Ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa (fasa R, fasa S, dan fasa T) inilah yang menyebabkan mengalirnya arus di netral trafo.

Teori Transformator

Transformator merupakan suatu alat listrik yang mengubah tegangan arus bolak-balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip-prinsip induksi-elektromagnet.  Transformator terdiri atas sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis dan dua buah kumparan, yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder.
Penggunaan transformator yang sederhana dan handal memungkinkan dipilihnya tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan serta merupakan salah satu sebab penting bahwa arus bolak-balik sangat banyak dipergunakan untuk pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik.
Prinsip kerja transformator adalah berdasarkan hukum Ampere dan hukum Faraday, yaitu: arus listrik dapat menimbulkan medan magnet dan sebaliknya medan magnet dapat menimbulkan arus listrik. Jika pada salah satu kumparan pada transformator diberi arus bolak-balik maka jumlah garis gaya magnet berubah-ubah. Akibatnya pada sisi primer terjadi induksi. Sisi sekunder menerima garis gaya magnet dari sisi primer yang jumlahnya berubah-ubah pula. Maka di sisi sekunder juga timbul induksi, akibatnya antara dua ujung terdapat beda tegangan

Perhitungan Arus Beban Penuh Transformator
            
             Daya transformator bila ditinjau dari sisi tegangan tinggi (primer) dapat dirumuskan sebagai berikut :
             S   =  √3 . V . I                                                                                    (1)
dimana :
S       :      daya transformator (kVA)
V       :      tegangan sisi primer transformator (kV)
I        :      arus jala-jala (A)
             Sehingga untuk menghitung arus beban penuh (full load) dapat menggunakan rumus :
             IFL                                                                                       (2)
dimana :
IFL     :      arus beban penuh (A)
S       :      daya transformator (kVA)
V       :      tegangan sisi sekunder transformator (kV)

Losses (rugi-rugi) Akibat Adanya Arus Netral pada Penghantar Netral Transformator
             Sebagai akibat dari ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa pada sisi sekunder trafo (fasa R, fasa S, fasa T) mengalirlah arus di netral trafo. Arus yang mengalir pada penghantar netral trafo ini menyebabkan losses (rugi-rugi). Losses pada penghantar netral trafo ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
PN   =   IN2. RN                                                                                     (3)
dimana :     
P       :      losses pada penghantar netral trafo (watt)
IN          :      arus yang mengalir pada netral trafo (A)
RN         :      tahanan penghantar netral trafo (Ω)
             Sedangkan losses yang diakibatkan karena arus netral yang mengalir ke tanah (ground) dapat dihitung dengan perumusan sebagai berikut :
PG   =   IG2 . RG                                                                                    (4)
dimana :     
P       :      losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah (watt)
IG          :      arus netral yang mengalir ke tanah (A)
RG         :      tahanan pembumian netral trafo (Ω)

Ketidakseimbangan Beban
Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah suatu keadaan di mana :
·        Ketiga vektor arus / tegangan sama besar.
·        Ketiga vektor saling membentuk sudut 120º satu sama lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan di mana salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi. Kemungkinan keadaan tidak seimbang ada 3 yaitu :
·        Ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120º satu sama lain.
·        Ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120º satu sama lain.
·        Ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120º satu sama lain.

Gambar 1. Vektor Diagram Arus

             Gambar 1(a) menunjukkan vektor diagram arus dalam keadaan seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR, IS, IT) adalah sama dengan nol sehingga tidak muncul arus netral (IN). Sedangkan pada Gambar 1(b) menunjukkan vektor diagram arus yang tidak seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR, IS, IT) tidak sama dengan nol sehingga muncul sebuah besaran yaitu arus netral (IN) yang besarnya bergantung dari seberapa besar faktor ketidakseimbangannya.

Penyaluran Dan Susut Daya
Misalnya daya sebesar P disalurkan melalui suatu saluran dengan penghantar netral. Apabila pada penyaluran daya ini arus-arus fasa dalam keadaan seimbang, maka besarnya daya dapat dinyatakan sebagai berikut :
            P  =  3 . [V] . [I] . cos j                                                                      (5)
dengan :     
P          :      daya pada ujung kirim
V          :      tegangan pada ujung kirim
cos j    :      faktor daya
Daya yang sampai ujung terima akan lebih kecil dari P karena terjadi penyusutan dalam saluran.
Jika [I] adalah besaran arus fasa dalam penyaluran daya sebesar P pada keadaan seimbang, maka pada penyaluran daya yang sama tetapi dengan keadaan tak seimbang besarnya arus-arus fasa dapat dinyatakan dengan koefisien a, b dan c sebagai berikut :
                                                                        (6)
dengan IR , IS dan IT berturut-turut adalah arus di fasa R, S dan T.
Bila faktor daya di ketiga fasa dianggap sama walaupun besarnya arus berbeda,  besarnya daya yang disalurkan dapat dinyatakan sebagai :
P  =  (a + b + c) . [V] . [I] . cos j                                                        (7)
Apabila persamaan (7) dan persamaan (5) menyatakan daya yang besarnya sama, maka dari kedua persamaan itu dapat diperoleh persyaratan untuk koefisien a, b, dan c yaitu :
a + b + c  =  3                                                                                      (8)
dimana pada keadaan seimbang, nilai a = b = c = 1

Pengumpulan Data :
Spesifikasi Trafo Tiang adalah sebagai berikut :
Buatan Pabrik               : TRAFINDO
Tipe                             : Outdoor
Daya                            : 200 kVA
Tegangan Kerja            : 21/20,5/20/19,5/19 kV // 400 V
Arus                             : 6,8 – 359 A
Hubungan                     : Dyn5
Impedansi                     : 4%
Trafo                            : 1 x 3 phasa


Gambar 2. Trafo Distribusi 200 kVA


Gambar 3. Single Line Trafo Distribusi 200 kVA



Tabel 1. Hasil Pengukuran Trafo Distribusi 200 kVA

Fasa
S
(kVA)
Vp-n
(V)
I
(A)
Cos j
Pengukuran pada  siang hari
R
50,42
226
223,1
0,95
S
37,34
226
165,0
0,94
T
20,56
227
90,6
0,95
IN
118,6 A
IG
  62,1 A
RG
    3,8 W
Pengukuran pada malam hari
R
68,22
225
303,6
0,91
S
42,42
226
187,7
0,92
T
37,38
226
165,4
0,94
IN
131,7 A
IG
  58,9 A
RG
    3,8 W

Ukuran kawat untuk penghantar netral trafo adalah 50 mm2 dengan R = 0,6842 W / km, sedangkan untuk kawat penghantar fasanya adalah 70 mm2 dengan R = 0, 5049 W / km.

Gambar 4. Skema Aliran Arus di Sisi Sekunder Trafo pada Siang Hari.

Gambar 5. Skema Aliran Arus di Sisi Sekunder Trafo pada Malam Hari.

Analisa Pembebanan Trafo

S = 200 kVA
V = 0,4 kV phasa - phasa
IFL          =  =   = 288,68 Ampere

Irata siang  =  =   = 159,67 Ampere

Irata malam  =  =   = 218,90 Ampere

Persentase pembebanan trafo adalah :
  • Pada siang hari :
 =   =  55.31 %

  • Pada malam hari :
 =   =  75.83 %
Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pada saat malam hari (WBP = Waktu Beban Puncak) persentase pembebanan cukup tinggi yaitu 75.83 %.

Analisa Ketidakseimbangan Beban pada Trafo
·        Pada Siang Hari :
Dengan menggunakan persamaan (6), koefisien a, b, dan c dapat diketahui besarnya, dimana besarnya arus fasa dalam keadaan seimbang ( I ) sama dengan besarnya arus rata-rata ( Irata ).

            IR  =  a . I         maka :  a   =  1,40

            IS  =  b . I         maka :  b   =  1,03

            IT  =  c . I         maka :  c  =  0,57

Pada keadaan seimbang, besarnya koefisien a, b dan c adalah 1.
Dengan demikian, rata-rata ketidakseimbangan beban (dalam %) adalah :

      {│a – 1│ + │b – 1│ + │c – 1│}
=                                                            x  100 %
                                      3

      {│1,40 – 1│+│1,03 – 1│+│0,57 – 1│}
=                                                                            x  100 % = 28,67%
                                             3

·        Pada Malam Hari :
Dengan menggunakan persamaan (6), koefisien a, b, dan c dapat diketahui besarnya, dimana besarnya arus fasa dalam keadaan seimbang ( I ) sama dengan besarnya arus rata-rata ( Irata ).

      IR  =  a . I       maka :      a  =  1,39

      IS  =  b . I       maka :      b  =  0,86

      IT  =  c . I       maka :      c  =  0,75

      Pada keadaan seimbang, besarnya koefisien a, b dan c adalah 1.
Dengan demikian, rata-rata ketidakseimbangan beban (dalam %) adalah :

      {│1,39 – 1│+│0,86 – 1│+│0,75 – 1│}
=                                                                            x  100 % = 26.00%
                                             3
Dari perhitungan di atas terlihat bahwa baik pada siang hari maupun malam hari, ketidakseimbangan beban cukup tinggi (> 25%), hal ini disebabkan karena penggunaan beban yang tidak merata di antara konsumen.

Analisa Losses Akibat Adanya Arus Netral pada Penghantar Netral Trafo dan Losses Akibat Arus Netral yang Mengalir ke Tanah

§         Pada Siang Hari :
Dari tabel pengukuran, dan dengan menggunakan persamaan (3), losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dapat dihitung besarnya, yaitu:
             PN   =  IN2. RN =  (118,6)2 . 0,6842 =  9623,92 Watt  ≈  9,62 kW

dimana daya aktif trafo (P) :
             P  =  S . cos φ , dimana cos φ yang digunakan adalah 0,85
             P  =  200 . 0,85  =  170 kW

Sehingga, persentase losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo adalah : 
             % PN      =  5.66 %

Losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah dapat dihitung besarnya dengan menggunakan persamaan (4), yaitu :
             PG   =  IG2 . RG  =  (62,1) 2 . 3,8 =  14654,4 Watt  ≈  14,65 kW

Dengan demikian persentase losses-nya adalah :
             % PG       =  8,62 %

§         Pada Malam Hari :
      Dari tabel pengukuran, dan dengan menggunakan persamaan (3), losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dapat dihitung besarnya, yaitu:
            PN   =  (131,7)2 . 0,6842 =  11867.37 Watt  ≈  11,87 kW

Sehingga, persentase losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo adalah : 
             % PN      =  6,98 %

Losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah dapat dihitung besarnya dengan menggunakan persamaan (4), yaitu :
             PG   =  (58,9) 2 . 3,8 = 13183,00 Watt  ≈  13,18 kW

Dengan demikian persentase losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah adalah :
             % PG      =  7,75 %

Tabel 2. Losses pada Trafo Distribusi 200 kVA
RN
Waktu
Ketidakseimbangan Beban ( % )
IN
IG
PN
PN
PG
PG
( W )
( A )
( A )
( kW )
( % )
( kW )
( % )
0,6842
(50 mm2)
Siang
28,67
118,6
62,1
9,62
5,66
14,65
8,62
Malam
26,00
131,7
58,9
11,87
6,98
13,18
7,75
0, 5049
(70 mm2)
Siang
28,67
118,6
62,1
7.10
4.18
14,65
8,62
Malam
26,00
131,7
58,9
8.76
5.15
13,18
7,75
       Pada Tabel 2 terlihat bahwa semakin besar arus netral yang mengalir di penghantar netral trafo (IN) maka semakin besar losses pada penghantar netral trafo (PN). Demikian pula bila semakin besar arus netral yang mengalir ke tanah (IG), maka semakin besar losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah (PG).
      Dengan semakin besar arus netral dan losses di trafo maka effisiensi trafo menjadi turun.
Bila ukuran kawat penghantar netral dibuat sama dengan kawat penghantar fasanya (70 mm2) maka losses arus netralnya akan turun.

Kesimpulan
Berdasarkan analisa data di atas, terlihat bahwa pada siang hari  ketidakseimbangan beban pada trafo tiang semakin besar karena penggunaan beban listrik tidak merata.
Sesuai tabel 2, semakin besar ketidakseimbangan beban pada trafo tiang maka arus netral yang mengalir ke tanah (IG) dan losses trafo tiang semakin besar.
Salah satu cara mengatasi losses arus netral adalah dengan membuat sama ukuran kawat netral dan fasa.

Referensi
[1]     Abdul  Kadir, Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik, Jakarta : UI - Press, 2000.
[2]  Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000), Jakarta : Badan Standarisasi Nasional, 2000.
[3]     James J.Burke, Power Distribution Engineering – Fundamentals And Applications, New York : Marcel Dekker Inc., 1994.
[4]     Sudaryatno Sudirham, Dr., Pengaruh Ketidakseimbangan Arus Terhadap Susut Daya pada Saluran, Bandung : ITB, Tim Pelaksana Kerjasama PLN-ITB, 1991.
[5]     Sulasno, Ir., Teknik Tenaga Listrik, Semarang : Satya Wacana, 1991.
[6]     Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, Bandung : ITB, 1991.
[7]        Abdul  Kadir, Transformator, Jakarta: PT. Elex Media Komputin

Sumber : Universitas Kristen Petra