Jumat, 16 September 2011

Nongkrong di Malioboro-nya Moskwa

 
Aji SuryaMelukis wajah di Arbat Stree


KOMPAS.com - Pelancong kota Moskwa wajib bertandang ke Old Arbat Street. Di sini, semua keperluan wisatawan akan dipenuhi, mulai sejarah, lukisan, musik, hingga urusan suvenir. Masukkan segera dalam daftar wajib kunjung.

Arbat adalah salah satu jalan yang paling terkenal di jantung kota Moskwa yang panjangnya hanya 1,2 km. Bermula di Arbatskaya Square dan berujung di Smolenskaya Square. Inilah jalan tertua di ibukota Rusia yang disebut-sebut dalam sebuah catatan tahun 1493. Mirip-mirip sedikitlah dengan Malioboro-nya Yogyakarta.

Bila datang dari arah Smolenskaya Square, maka Anda pertama kali akan disuguhi sebuah pameran raksasa, salah satu gedung dari the Seven Sisters yang saat ini dipakai sebagai Kementerian Luar Negeri Rusia.

Bangunan pencakar langit kerucut itu rancang bangunnya tidak lepas dari campur tangan orang nomor wahid saat itu, Stalin lalu Khrushchev. Sampai kini, di banyak bagiannya, masih terpampang logo palu arit yang sengaja tidak dihapus sebagai kenangan perjalanan sebuah bangsa.
Old Arbat tempatnya oke punya dan nyaman abis. Datanglah dengan metro bawah tanah, sebab menggunakan mobil akan sulit untuk dapat parkir. Di sini pelancong hanya bisa jalan kaki saja, kendaraan dilarang masuk.

Dengan lebar 50-an meter, kita bisa melenggang menikmati suasana bersama turis dan penduduk setempat. Di saat matahari mencorong di bulan Juli-September, Anda dijamin akan betah di sini lebih dari setengah hari.

Suasana yang tercipta, uh susah digambarkan. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat puluhan toko cindera mata seperti matrioska, syal, kaos, amber, gantungan kunci, topi rusia dan tempelan kulkas.
Pedagangnya ramah dan banyak yang bisa mengucapkan kata-kata bahasa Indonesia. “Mari kesini. Anda dari Indonesia?” teriak mereka dari pintu toko. Bila Anda masuk, pilih-pilihlah dengan baik lalu tawarlah menggunakan bahasa Inggris.

Jangan cepat menyerah dan kalau terlalu mahal bandingkan dengan toko sebelahnya. Pada musim dingin saat turis berkurang, barang dagangan di sini bisa turun sampai 30-40 persen dari penawaran pertama. Namun di musim panas, sesuai hukum pasar saat banyak permintaan, maka hanya bisa dinego maksimal 30 persen saja.

Di antara dagangan yang cukup mahal namun banyak dicari adalah amber, yaitu fosil pohon berwarna coklat cerah. Benda ini konon hanya ada di belahan utara bumi. Bentuknya macam-macam, ada yang sudah dijadikan liontin, kalung ataupun gelang.

Harganya sangat tergantung keunikan serat yang ada di dalamnya. Bila sempat melihat amber yang di dalamnya terdapat binatang, itu umumnya adalah amber yang dihancurkan dan dicetak ulang dengan memasukkan serangga ke dalamnya.

Di tengah-tengah jalan sepanjang Arbat terdapat banyak sekali pelukis wajah. Mulai yang sederhana, motif karikatur, natural dan lainnya. Semakin sulit pembuatannya maka harganya semakin mahal.

Paling murah 100 rubel atau 3,5 dolar dan yang rumit sekitar 20 dolar. Anda tinggal duduk sambil menikmati keadaan dalam kurun waktu setengah jam. Sementara sang pelukis dengan asyiknya menorehkan kuasnya di atas kertas atau kanvas.

Lalu apa yang bisa dinikmati sambil digambar? Oh... terlalu banyak. Pertama, telinga kita akan dihibur oleh aneka musik jalanan yang boleh dibilang pada tingkatan setengah profesional.
Ada kelompok yang memainkan musik klasik, gitar tunggal, sampai lagu-lagu rock anak muda sekarang. Bahkan mereka juga sangat suka menyanyikan lagu Barat yang pernah diharamkan oleh kakek nenek mereka.

Adapun kedua mata kita akan dimanjakan dengan beraneka atraksi di sepanjang jalan. Ada pesulap yang dikerumuni oleh para penonton. Ada aksi pelukis gambar abstrak dengan menggunakan pilox.

Ada pantomim. Ada juga sekelompok pemuda yang bergantian menari break dance. Semuanya menaruh topi di dekatnya dengan harapan para penikmat berkenan untuk merogoh kocek.
Selain itu, dipajang pula di jalan Arbat lama ini berbagai lukisan baru dalam berbagai ukuran. Umumnya lukisan tentang Rusia di musim dingin yang penuh salju, musim gugur yang serba warna kuning, ataupun kehidupan masyarakat setempat.

Selain itu, dijual juga berbagai lukisan tentang keindahan kota Paris. Maklumlah, Rusia adalah gudangnya pelukis yang mampu menorehkan kuasnya dalam aneka imajinasi.

Bila perut Anda tiba-tiba keroncongan, jangan khawatir. Makanan dunia tersedia semua di sini. Bila menginginkan yang bernuansa Rusia, pilihlah restoran Kartoshka dan Mu Mu.
Kalau ingin warna Amerika silakan datang ke McDonald’s, Starbucks, Dunkin Donuts atau Hard Rock Café. Mau berbau Tuki? Disana ada restoran Sashlik Mashlik yang menyediakan sate ukuran besar (sashlik) sampai dengan kebab.

Bahkan saat ini terdapat beberapa stan yang khusus menyediakan bir Jerman atau pizza Italia. Sangat disayangkan memang, di antara restoran yang ada belum terdapat warung Padang.
Jangan lupa, Arbat kuno itu juga memiliki sejarah yang sangat panjang. Pada abad ke-18, daerah yang merupakan pinggiran kota Moskow saat itu, dijadikan tempat mangkal para saudagar dan orang-orang terhormat dari wilayah Timur yang datang dengan karavan.

Mereka menikmati area ini sambil minum kopi dan menjajakan dagangannya. Di masa kejayaan komunis, Arbat dijadikan perumahan elit para penguasa negeri. Inilah tempat pertemuan di Rusia yang penuh cerita.

Di antara peninggalan penting di Arbat kuno ini adalah tempat tinggal seorang pujangga terkemuka Rusia, Alexander Pushkin (1799-1837). Pria rambut keriting itu tinggal di rumah nomor 53 yang kini dijadikan museum untuk mengenang kebesarannya. Sedangkan pujangga lain, Tolstoy, tinggal tidak jauh dari Arbat.

Untuk mengenang jasa-jasanya, sampai saat ini terdapat patung Pushkin dan istrinya, Natalia Goncharova usai pernikahan mereka di gereja Kristen Ortodoks terbesar yang tidak jauh dari situ.
Patung dalam ukuran dua setengah lipat dari aslinya itu selalu saja mematik perhatian para pelancong. Mereka merasa belum sampai Arbat bila belum berfoto bersama patung sang pujangga dan istrinya.

Pushkin memang sangat dikenal sebagai sastrawan yang luar biasa. Karya-karyanya menjadi kajian ilmiah sampai saat ini, seperti puisi the Stone Guest, Mozart and Salleri atau Eugene Onegin.
Selain itu, Pushkin juga dikenal sebagai peletak bahasa Rusia modern. Dialah yang mengemas kaidah-kaidah bahasa Rusia sehingga mudah dipahami dan dipelajari oleh siapapun termasuk Leo Tolstoy dan Nikolai Gogol.

Yang tragis adalah percintaan antara Pushkin dan istrinya, Natalia. Menurut cerita, Pushkin mendapatkan istrinya yang dikenal sangat cantik itu dengan susah payah. Saingannya pun tidak tanggung-tanggung, seorang Tsar Nikolas! Tidak heran, Pushkin sangat mencintai istrinya yang jelita.

Suatu saat Pushkin mengendus istrinya tergoda oleh pria kenalan mereka, George D’Athens, anak angkat Duta Besar Belanda. Meskipun kecurigaan itu tidak pernah terbukti, namun api cemburu sudah membakar hatinya dan tidak bisa dikuasai.

Untuk mempertaruhkan harga diri, Puskhin menantang George untuk duel menggunakan pisau di kota St. Petersburg. Sayang seribu sayang, akhir cerita Pushkin harus tumbang di ujung pisau George pada siang hari bolong di bulan Januari 1837.

Kematiannya membuat shock pemerintah dan masyarakat. Agar rakyat tidak marah dan melakukan amuk massa, maka diam-diam jasad Pushkin dimakamkan di sebuah gereja kecil tidak terkenal.
Beberapa puluh tahun kemudian pemerintah baru mengakui jasa Pushkin dan patungnya didirikan di kota Moskow pada tahun 1880. Kini patung Pushkin didirikan di mana-mana, termasuk di Arbat.
Karenanya, sungguh disesalkan bila datang ke Moskwa tidak menyempatkan diri menikmati tempat bersejarah ini. Bagi Anda yang ingin menikmati Arbat lebih lama lagi, maka tidak jauh dari sini terdapat beberapa hotel dan hostel.

Khusus penginapan kelas hostel bisa menampung enam orang dalam satu kamar. Harganya relatif miring atau pada kisaran 20-50 dolar per-orang. Pelayanannya  bagus dan ruangannya bersih.   Di atas semuanya, saya sebenarnya cukup khawatir. Ketika pulang dari Old Arbat Moskwa, Anda akan terinspirasi menjadi seorang musisi, pelukis, pedagang atau bahkan sastrawan, menyaingi ketenaran Rendra yang berdarah Rusia itu. Siapa tahu?
(M. Aji Surya adalah diplomat Indonesia pada KBRI Moskwa, ajimoscovic@gmail.com)

Sumber : Kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar